Comments
Posted by Bias Tegaralaga in - Tuesday, April 21, 2009 9:06 PM
sebatang rokok disore hari
sebatang rokok disore hari
Suasana lenggang membuatku bosan akan keadaan, langit pun sedang tidak bersahabat. Kududuk mencoba menikmati tiap tetes hujan yang telah dianugerahkan Tuhan pada bumi pertiwi, disampingku secangkir kopimix dan sebuah majalah teronggok tak terjamah. Kukeluarkan satu batang terakhir rokok dari bungkusnya, lalu kunyalakan dan aku sangat menikmatinya, merokok dikala hujan.

Pikiranku melayang pada kurang lebih 7 tahunan lalu, ketika aku masih duduk dibangku sekolah dasar, dibangku sekolah dasar inilah aku untuk pertama kalinya merokok, tapi aku lupa waktu itu aku kelas berapa. Setiap malam minggu datang, bersama-sama dengan teman satu kampung, kami pun berjalan-jalan, namun tujuan kami pasti dan tak pernah berganti, Lapangan Makamhaji adalah saksi mati hisapan rokok pertamaku.

"Urunan mangatus-mangatus", aku masih ingat betul kata-kata tersebut meluncur dengan manis dari mulut salah seorang temanku. Lalu aku pun mengeluarkan satu-satunya uang dari dalam sakuku, saat itu setiap malam minggu aku hanya diberi 500 rupiah untuk uang jajan oleh orangtuaku. Karena yang berkumpul lumayan banyak, maka uang yang terkumpul juga lumayan banyak, dan setelah itu 2 orang temanku pun pergi menuju ke sebuah toko kelontong diselatan lapangan. Tak lama setelah itu, kedua orang tersebut datang dengan membawa sebungkus kotak berwarna merah tua yang bertuliskan "Gudang Garam".

Pertama kali aku menghisap rokok, yang kurasakan cuma hampa, aku tidak terbatuk-batuk, cuma aku tidak bisa menikmatinya. Aku iri melihat teman-temanku yang kelihatannya sangat menikmati merokok, mereka menghisapnya kuat-kuat, menghembuskannya sebagian dari mulut, dan sebagian lagi dari hidungnya, sungguh seperti pria dewasa menurutku saat itu.

Setelah beberapa kali malam minggu berselang, dan rutinitas yang sama yang kami lalui, Aku pun minta diajari untuk bisa mengeluarkan asap rokok dari hidung, salah seorang temanku pun berkata, "Hisap dan telan dulu, nanti pasti bisa keluar dari hidung". Tanpa basa-basi, tedeng aling-aling, aku pun melakukan seperti apa yang dia katakan, dan saat itu pula aku rasakan kepalaku pusing, mataku pedih, dan tenggorokanku panas, aku pun batuk-batuk dengan hebatnya, hebatnya lagi mereka semua tertawa sangat lepas, menertawakan kebodohanku.

Setelah kejadian itu aku menjadi jarang keluar malam minggu untuk berkumpul dengan teman-temanku, di Lapangan Makamhaji yang hanya berjarak 500an meter dari kampungku. Aku pun jadi membenci rokok, sebenarnya aku tidak perlu membenci rokok, yang harus kubenci adalah ketidaktahuanku. Statusku sekarang menjadi seorang anak SMP, pergaulan mempengaruhiku, aku kembali lagi bercumbu dengan rokok.

Rupanya aku adalah seorang perokok alami, setelah sekitar 3 tahun berhenti merokok, sekali merokok aku langsung bisa mengeluarkan asap dari hidung, tentunya tanpa batuk-batuk dan tanpa tertawaan dari teman-temanku. Aku pun menjadi seorang pecandu rokok, bagiku rokok adalah "Nyambung Nyowo", perhari aku bisa menghabiskan setengah bungkus rokok sendirian, tentunya hal yang cukup mengerikan bagi seorang anak SMP.

Andaikan jariku tidak kepanasan karena rokokku ternyata sudah berkurang dengan cepat, mungkin aku masih melanjutkan lamunanku tentang pengalamanku dengan rokok. Sekarang dalam sehari aku bisa menghabiskan 1 bungkus rokok kesukaanku, Marlboro Light. Setelah makan rasanya kurang mantap kalau tidak menghisap nikotin bermerek Djarum Super. Aku pun meletakkan rokok yang tinggal setengah itu diatas asbak, setelah meminum habis kopimix dalam cangkir, perhatianku pun tertuju pada majalah yang tadi berada disampingku.

Halaman pertama membicarakan tentang bahaya minum-minuman keras, aku pun langsung bergidik ngeri membayangkan bahaya-bahaya yang tertulis dimajalah tersebut. Halaman berikutnya menjelaskan bahaya makanan fastfood, hwaaa ternyata makan makanan fast food itu tidak baik untuk kesehatan. Aku melanjutkan membaca majalah tersebut, saat itu pula aku terdiam melihat judulnya yang besar dan begitu jelas, lalu tanpa berpikir lagi aku pun meletakkan majalah tersebut tanpa melanjutkan lagi membacanya. Setengah batang rokok diatas asbak pun kuambil dan kuhisap kuat-kuat, lalu menghembuskannya melalui hidung dan mulutku, disampingku majalah itu masih terbuka dengan halaman bertopik "Bahaya Merokok". Langit pun berangsur cerah seakan setuju dengan pendapatku.

Glosary :
urunan mangatus-mangatus » iuran perorang lima ratus
nyambung nyowo » menyambung hidup

...Setiap orang sudah tahu akan keindahan surga, namun tidak ada yang mau pergi kesana sekarang...
Setiap orang sudah tahu bahaya rokok, namun belum ada perokok yang berhenti karenanya...