Comments
Posted by Bias Tegaralaga in - Wednesday, May 13, 2009 7:32 PM
Pagi yang sepi diboyolali, waktu sudah menunjukkan pukul 03.30. Teman-temanku sudah tidur semua, sementara aku masih sibuk mencari korek api yang membuatku menunda menyalakan rokok terakhirku. Drrtt...drrtt... handphoneku bergetar, tidak keras namun cukup membuat benda disebelah kantong celanaku geli...
"Enak yaa... Tgl smono q ndaptar kuliah.
...y gag po2.. mung tenguk2 nang kmar.
Rsane meh ninggalke slo wiy kpy?"

Sebuah pesan singkat dari cynong, salah seorang teman, seorang penderita insomnia akud juga, hehehehe. Sejenak aku mencoba memahami apa arti pesan singkat tersebut, karena otakku masih kebingungan akan hilangnya korek merek Tokai kesayanganku.

Ternyata memang dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan ini aku akan meninggalkan solo, tepatnya pada tanggal 15 Juni nanti. Peluang dari ayahku yang memberiku kesempatan lagi untuk kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta didaerah Bandung tak kusia-siakan.Tahun ajaran baru ini aku akan masuk sebagai salah satu anak didik dari Yayasan Pendidikan Telkom Bandung.
"Enak yaa... tanggal segitu aku daftar kuliah.
...ya gapapa.. cuma duduk-duduk dikamar.
Rasanya mau meninggalkan Solo itu gimana?"

Kira-kira itulah yang aku dapatkan ketika menterjemahkan pesan dari temanku dengan menggunakan Google Translate (cuma becanda). Kalimat terakhir itu cukup mengusik pikiranku, "Rasanya mau meninggalkan Solo itu gimana?"

Solo itu hanyalah kota biasa bagiku, tak lebih dari kota-kota lainnya. Bagi orang luar kota yang merasakan Solo serba "wah", itu adalah hal yang wajar, mereka belum terbiasa saja dengan Solo. Mungkin kalo aku berkunjung ke kota-kota lainnya aku juga akan merasa "wah", karena aku juga belum terbiasa. Menurutku semua hanyalah masalah kebiasaan dan bagaimana cara kita beradaptasi.

Yang membuatku berat untuk meninggalkan Solo adalah orang-orang terdekatku yang berada di Solo. Apakah artinya bila kita jalan-jalan dengan membawa banyak uang dan menjajakannya disepanjang Galabo, kalau tidak ada teman disamping kita untuk berbagi tawa, menikmati keindahan kota Solo dari segi kuliner di Galabo.

Apakah artinya nongkrong diwedangan kalau cuma sendirian, menikmati susu jahe dan pisang owol tentunya lebih nikmat kalau dibarengi dengan obrolan menarik bersama pak Blontank Poer. Diiringi banyolan dan ejekan dari Si Tukang Nggunem serta Si Putra Daerah, tentunya membuatku berpikir lima kali untuk beranjak pergi.

Siang hari enaknya nongkrong dikost temen, apalagi kalo semalam habis download film terbaru. Ditemani dengan rokok, BiosKos (Bioskop Kost) pun dimulai. Walaupun kadang ada bau keringat tidak sedap yang bertebaran karena kondisi kost yang panas, apalagi pintu dan jendela ditutup untuk membuat kesan gelap sehingga semakin percaya kalau sedang berada di Bioskop *jadi-jadian*. Tak terhitung berapa film yang kami tonton bersama disana, dari berbagai genre. Namun ada keyakinan kami jarang mau menonton film bergenre horor, ketakutan kami hanya satu, kami akan saling berpelukan kalau ada hantu yang nongol, itu saja.

Solo bagiku hanya kota biasa tanpa mereka, Solo hanya kota dengan Walikota-nya yang menawan, hanya itu. Namun dengan ada mereka dikota Solo, Solo adalah rumah bagiku. Tempat aku pulang, tempat aku berteduh, tempat aku bermain, bercanda, dan tertawa, bersama.

Tidak peduli aku akan berada dimanapun nanti, Bandung, Wakatobi, Paris, Massachusette, atau Tahiti sekalipun. Kalau aku ditanya akan kemanakah aku ketika pulang nanti, dengan cepat aku akan jawab, "Solo, Solo tempatku pulang". Sedikit mengutip dari buku karya Arswendo Atmowiloto dengan judul Kitab Solo, salah satu quote yang paling aku sukai adalah,
"...orang dapat pergi dari Solo, namun mereka tidak akan pernah bisa benar-benar meninggalkan Solo, mereka akan kembali..."

Soloppuccino, Galabo, Hik Klitik, Hik Balaikota, Solo Billiard Center, Kost Yogi, Meja kecil disudut Lab Bahasa tempat aku berhotspot ria, Tempe Penyet depan ATMI, Es Revo, Taman Balekambang, agh suara Adzan membuyarkan pikiranku. Brengsek ternyata kau sembunyi disana korek sialan, coba kalau aku tidak merasakan dahaga, tentunya aku tidak tahu kalau kau berada diatas toples kue "Kacang Sembunyi" disamping botol air minum. Dan rokok terakhirku ini pun menemaniku menunggu temanku bangun untuk diajak sholat shubuh bersama, kadang insomnia memang menyenangkan kawan...

"...terimakasih untuk semua orang yang sudah membuat Solo menjadi rumahku, yang membuat Solo menjadi nyaman. Aku pergi untuk kembali..."