Comments
Posted by Bias Tegaralaga in - Wednesday, June 03, 2009 9:45 PM
School Bus
Mari Sekolah
SMAN 2 Ngawi siswa-siswinya 100% tidak lulus UN. Ketika membaca berita itu diranah dunia maya, speechless. Apalagi "katanya" itu semua gara-gara sms bocoran UN, sumpah daripada mempercayai sms bocoran seperti itu yang tidak jelas siapa sumbernya, mending aku nyontek temen dikelasku yang aku sendiri sudah tahu kemampuannya.

Aku tak tahu harus tertawa atau sedih. Tertawa menyaksikan kebodohan atau sedih menyaksikan bobroknya mentalitas siswa di Indonesia ini yang percaya pada hal seperti itu. Aku sendiri tidak terlalu percaya dengan bocoran seperti itu, ya kalau bener... kalau salah??? toh pada akhirnya kita mencocokan dengan hasil kerjaan kita sendiri, kalau begitu ngapain butuh bocoran kalau akhirnya dicocokan dengan kerjaan sendiri. Aku masih tetep keukeuh pada pendirianku, mending nyontek temen daripada pake bocoran, resikonya terlalu gedhe...

Yang tak habis pikir lagi, BNSP merencanakan akan mengadakan UN ulang menanggapi kasus tersebut. Bukankah ini juga termasuk tindakan (maaf) bodoh bagi lembaga standarisasi pendidikan di Indonesia. Saya setuju dengan Pak Sawali atas pendapatnya, "Bagaimana kalau ada seorang anak dipelosok Indonesia yang mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dengan segala kemampuannya, namun ternyata dia gagal, bolehkah dia juga meminta UN ulang?" Terima tidak terima, memang itu kenyataannya, tidak ada namanya UN Ulang, yang ada UN susulan bagi siswa yang sakit maupun yang berhalangan hadir saat UN resmi.

Namun aku juga sedikit tertawa ketika kang Suryaden dan Slamet Widodo mempost sebuah artikel diblognya yang membicarakan tentang Fatwa Haram UN. Tidak perlulah diharamkan, lebih baik dihilangkan, kalau sudah dihilangkan buat apa diharamkan??? hehhehhehe. Tapi aku sangat setuju dengan mereka yang mengatakan pendidikan di Indonesia masih mengagung-agungkan ANGKA/NILAI, absolutely i agree. Padahal bukan hanya angka dan nilai saja yang penting, ketrampilan dasar juga penting (pembelaan seorang anak SMK). Sekolah tiga tahun hanya ditentukan oleh 3 mata pelajaran, ya kalo saat itu lagi fit dan dapat berpikir jernih, kalo lagi sakit?

Namun aku juga tersadar ketika membaca komentar Mbak Cebong Ipiet diposting kang Suryaden. " Kalau tidak ada UN trus apa yang menjadi dasar kelulusan bagi siswa? Kalau nilai dan angka saja yang kasat mata tidak diperhatikan, apalagi moral maupun nurani yang tidak kasat mata?" Memang susah ya membuat sebuah standarisasi pendidikan.

Haruskan UN di SMAN 2 Ngawi diulang, Haruskah UN dihilangkan maupun diharamkan? Itu sebuah dilema bagi saya, dan posting ini merupakan pandangan saya sebagai seorang pelajar.

Ah entahlah, masalah standarisasi pendidikan sudah ada yang memikirkannya, aku belum cukup ilmu untuk ikut bicara...

Terngiang perkataan sorang temanku dulu, "Sekolah adalah waktu luang yang digunakan untuk belajar, bukan bangunan"