Refleksi
2009-07-22T01:41:00-07:00
Bias Tegaralaga
coretanku|
Comments
Posted by Bias Tegaralaga in
coretanku
- Wednesday, July 22, 2009
1:41 AM
sore itu angin berhembus lumayan kuat disela-sela bangunan kokoh didepan ISI Surakarta, didepanku tergeletak 2 bungkus nasi yang sudah tidak ada lagi isinya, disampingnya segelas susu jahe anget yang tinggal setengah isinya. Kuambil sebatang rokok Marlboro Light, lalu temanku pun juga mulai mengambil rokok mereka masing-masing. Nikmat rasanya menikmati udara disore hari selepas berenang dengan kedua sahabatku, Dodi dan Areca.
Sambil menghembuskan Bentoel jatah dari ayahnya, Dodi pun memulai pembicaraan dengan topik yang ringan-ringan, dan kami pun saling "Take and Give" katanya. Kami berbicara banyak hal, namun seperti kebanyakan pria kalau berkumpul, maka yang menjadi topik utama adalah "WANITA". Walaupun mereka belum pernah mempunyai pengalaman "bercinta" namun mereka cukup mengerti cinta daripada orang yang sudah berulang-kali "bercinta", setidaknya aku bisa melihat cinta dari sudut pandang lain sore itu.
Pembicaraan pun terus mengalir, tapi tetap topik yang paling utama adalah "WANITA". Karena merasa pembicaraan masih patut untuk diperjuangkan, maka akhirnya aku pun pesan lagi minuman, segelas es teh manis cukup untuk menemani pembicaraan untuk waktu yang lebih lama lagi. Tiba-tiba ada sms dari seorang temanku ".koe jig neng kapal rag ?.ikieh knca'qo ngejak rno. .tag knalke bie .." yang artinya kurang lebih, "Kamu masih dikapal (nama wedangan) ga? ini ada temanku ngajak kesana. Aku kenalin bie .."
Sayup-sayup terdengar suara adzan magrib diseberang jalan, lalu temanku pun berkata, "Kamu sholat dulu ga?". Aku pun menjawab, "Aku ga sholat dulu", dia pun menyahut, "Kok ga sholat tho, mbok sholat sana". Aku pun mulai bercerita kepada mereka kenapa aku agak kurang dalam beribadah, aku bercerita kalau aku merasa aku belum beribadah sepenuhnya dari hati, aku merasa ibadahku selama ini hanya atas dasar disuruh orangtua, kakak maupun orang lain, aku merasa belum mendapat hidayah-Nya. Lalu aku bilang kalau begitu aku sholat bukan karena Allah, tapi karena orang lain.
Dodi diam sejenak lalu dia pun mulai bercerita. Jaman dulu waktu akan ada tsunami, ada seorang yang tidak mau beranjak dari peraduannya, dia menunggu Tuhan menyelamatkannya sendiri. Panggilan orang-orang kampung untuk mengajaknya pergi pun tak ia hiraukan, dia masih bilang bahwa Tuhan akan menyelamatkannya. Hingga tiga kali dia diajak untuk pergi, namun tetap saja dia tidak mau beranjak, "Tuhan akan menyelamatkanku, kalian pergi saja sendiri" dan akhirnya pun dia mati. Aku hanya bisa tersenyum mendengar cerita itu, aku paham apa yang dimaksudkan oleh temanku itu. Dodi pun bicara lagi, "Tuhan telah datang padanya 3 kali melalui orang-orang kampung tersebut, hanya saja dia tidak menyadarinya."
Aku paham sekarang apa yang ingin disampaikan oleh Dodi padaku, Allah telah menegurku berulang kali melalui orang-orang disekitarku, namun sungguh bodoh aku tidak pernah menyadarinya. Sejenak aku merenung, kenapa selama ini tidak pernah terpikirkan olehku. Aku berterimakasih sekali sore itu, telah dipertemukan teman-teman yang bisa membuatku tersadar. Aku sangat berterimakasih, mereka yang berbeda keyakinan denganku malah bisa membuatku tersadar seperti ini, sedangkan banyak pengajian yang dulu aku ikuti hanya aku anggap angin lalu.
Lamunanku pun berhenti ketika temanku datang bersama dengan teman yang dia janjikan akan dikenalkan padaku, lumayanlah "tombo ngantuk". Aku pun mengajaknya untuk segera berkumpul, dan kami pun mulai berusaha mencairkan suasana diawal perkenalan itu. Sore itu Tuhan telah menyadarkanku melalui cara yang sangat berbeda, dan caranya terasa sangatlah Indah.
Sambil menghembuskan Bentoel jatah dari ayahnya, Dodi pun memulai pembicaraan dengan topik yang ringan-ringan, dan kami pun saling "Take and Give" katanya. Kami berbicara banyak hal, namun seperti kebanyakan pria kalau berkumpul, maka yang menjadi topik utama adalah "WANITA". Walaupun mereka belum pernah mempunyai pengalaman "bercinta" namun mereka cukup mengerti cinta daripada orang yang sudah berulang-kali "bercinta", setidaknya aku bisa melihat cinta dari sudut pandang lain sore itu.
Pembicaraan pun terus mengalir, tapi tetap topik yang paling utama adalah "WANITA". Karena merasa pembicaraan masih patut untuk diperjuangkan, maka akhirnya aku pun pesan lagi minuman, segelas es teh manis cukup untuk menemani pembicaraan untuk waktu yang lebih lama lagi. Tiba-tiba ada sms dari seorang temanku ".koe jig neng kapal rag ?.ikieh knca'qo ngejak rno. .tag knalke bie .." yang artinya kurang lebih, "Kamu masih dikapal (nama wedangan) ga? ini ada temanku ngajak kesana. Aku kenalin bie .."
Sayup-sayup terdengar suara adzan magrib diseberang jalan, lalu temanku pun berkata, "Kamu sholat dulu ga?". Aku pun menjawab, "Aku ga sholat dulu", dia pun menyahut, "Kok ga sholat tho, mbok sholat sana". Aku pun mulai bercerita kepada mereka kenapa aku agak kurang dalam beribadah, aku bercerita kalau aku merasa aku belum beribadah sepenuhnya dari hati, aku merasa ibadahku selama ini hanya atas dasar disuruh orangtua, kakak maupun orang lain, aku merasa belum mendapat hidayah-Nya. Lalu aku bilang kalau begitu aku sholat bukan karena Allah, tapi karena orang lain.
Dodi diam sejenak lalu dia pun mulai bercerita. Jaman dulu waktu akan ada tsunami, ada seorang yang tidak mau beranjak dari peraduannya, dia menunggu Tuhan menyelamatkannya sendiri. Panggilan orang-orang kampung untuk mengajaknya pergi pun tak ia hiraukan, dia masih bilang bahwa Tuhan akan menyelamatkannya. Hingga tiga kali dia diajak untuk pergi, namun tetap saja dia tidak mau beranjak, "Tuhan akan menyelamatkanku, kalian pergi saja sendiri" dan akhirnya pun dia mati. Aku hanya bisa tersenyum mendengar cerita itu, aku paham apa yang dimaksudkan oleh temanku itu. Dodi pun bicara lagi, "Tuhan telah datang padanya 3 kali melalui orang-orang kampung tersebut, hanya saja dia tidak menyadarinya."
Aku paham sekarang apa yang ingin disampaikan oleh Dodi padaku, Allah telah menegurku berulang kali melalui orang-orang disekitarku, namun sungguh bodoh aku tidak pernah menyadarinya. Sejenak aku merenung, kenapa selama ini tidak pernah terpikirkan olehku. Aku berterimakasih sekali sore itu, telah dipertemukan teman-teman yang bisa membuatku tersadar. Aku sangat berterimakasih, mereka yang berbeda keyakinan denganku malah bisa membuatku tersadar seperti ini, sedangkan banyak pengajian yang dulu aku ikuti hanya aku anggap angin lalu.
Lamunanku pun berhenti ketika temanku datang bersama dengan teman yang dia janjikan akan dikenalkan padaku, lumayanlah "tombo ngantuk". Aku pun mengajaknya untuk segera berkumpul, dan kami pun mulai berusaha mencairkan suasana diawal perkenalan itu. Sore itu Tuhan telah menyadarkanku melalui cara yang sangat berbeda, dan caranya terasa sangatlah Indah.
Refleksi
2009-07-22T01:41:00-07:00
Bias Tegaralaga
coretanku|


