Artificial Intelligence
2009-09-16T06:53:00-07:00
Bias Tegaralaga
kuliah|
Comments
Posted by Bias Tegaralaga in
kuliah
- Wednesday, September 16, 2009
6:53 AM
Pukul 15.45, kuliah "perdana kedua"ku tentang SisKom (Sistem Komputer) pun dimulai, karena kuliah perdana kami sempat digoyang oleh gempa berskala 7.3 SR, alhasil dosen pun menyebut kelas kami kelas gempa. Setelah perkenalan ala kadarnya, kami pun langsung menuju materi. Bab 1 pun dimulai dengan sejarah komputer. Selesai membaca, dosen pun bertanya, "Apakah intelegensi buatan itu?", tanpa ragu aku pun mengacungkan telunjukku, berharap aku yang ditunjuk, karena bagiku kesan pertama itu penting. "Ya apa?", aku pun menjawab, "Intelegensi buatan adalah sebuah sistem kecerdasan buatan yang dibuat oleh manusia agar bisa berperilaku, dan berpikir seperti manusia. Kurang lebih seperti itu", "Yak, kurang tepat".
Artificial Intelligence atau intelegensi buatan, atau kecerdasan buatan. Ketika mendengar kata-kata tersebut lamunanku melayang pada buku yang aku beli di Gramedia Jogja 2 tahun lalu. Buku berjudul How To Become A Hacker yang ditulis oleh Eric Steven Raymond, yang mengisahkan tentang kultur hacker, bukan secara teknis, melainkan lebih ke sejarah, dan bagaimana menjadi seorang hacker yang handal. "Hacker pertama kali tumbuh dilaboratorium Artificial Intelligence termaju pada masa itu, yang bertempat di MIT(Massachusette Institute of Technology) oleh sebuah tim yang bernama Tech Model Railroad Club.", ah sudahlah, aku tidak sedang membahas hacker, kembali ke pokok bahasan, yaitu Artificial Intelligence.
Kuambil sebuah buku tebal dari susunan rak yang sudah lusuh karena sudah lusinan kali dibaca, buku pertama kali tentang komputer yang dibelikan oleh ayahku ketika aku masuk di Teknik Komputer dan Jaringan SMK N 2 Surakarta, sekitar 3 tahun yang lalu. Kubuka halaman 823 buku yang berjudul Pengenal Komputer karangan Prof. Dr. Jogiyanto H.M, M.B.A., Akt., sebuah bab yang berjudul Intelegensi Buatan.
Apakah Intelegensi Buatan itu? sebuah pertanyaan yang sulit dijawab dengan tepat. Secara sederhana, AI dapat didefinisikan sebagai suatu mesin yang dapat melakukan suatu tugas yang bilamana tugas tersebut dilakukan oleh manusia akan dibutuhkan suatu kepintaran untuk melakukannya. Banyak hal yang kelihatannya sulit untuk kecerdasan manusia, tetapi untuk informatika tidak bermasalah. Seperti contoh, menyelesaikan persamaan integral, mentransformasikan persamaan, pemilihan langkah dalam permainan catur. Disisi lain, hal yang bagi manusia kelihatannya menuntut sedikit kecerdasan, namun sampai sekarang masih sulit untuk direalisasikan dalam informatika. Seperti contoh, pengenalan obyek muka, pendefinisian sebuah kalimat, pengenalan suara, maupun bermain sepak bola. Menggelikan, bukan!
Abad 18 seorang berkebangsaan Prancis, Jacques de Vaucanson membuat sebuah mesin pemain seruling berukuran seperti seorang manusia yang dapat memainkan 12 melodi nada. Selang beberapa tahun, pada 1774 seorang berkebangsaan Prancis (lagi) Pierre Jacquet-Droz mencengangkan masyarakat Eropa dengan suatu automation berukuran sekitar seorang anak laki-laki yang dapat duduk dan menulis sebuah buku catatan, penemuan itu kemudian dilanjutkan dengan automation berupa seorang gadis kecil yang memainkan harpsichord. Namun semua itu hanyalah sebuah kecerdasan buatan yang masih bersifat mekanik.
Seiring berjalannya perkembangan teknologi, sebuah bahasa pemrograman pun hadir, sebuah generasi pertama sebuah bahasa pemrograman berbasiskan AI bernama LISP yang dikembangkan oleh John McCarthy. Direktur dari Laboratorio de Automatica di Madrid, Leonardo Torres Y Quevedo mengenalkan sebuah mesin permainan catur. Bahkan ada sebuah komputer permainan catur bernama Deep Blue yang mengalahkan Garry Kasparov dalam sebuah pertandingan 6 game yang terkenal pada tahun 1997. Perkembangan AI menjadi sangat pesat, bukan hanya diterapkan pada permainan, tetapi juga untuk hal-hal yang lain. IBM Simulation Laboratory di Owego, New York telah melakukan simulasi peperangan buatan yang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai jumlah tentara yang gugur, yang terluka dan yang selamat.
Dalam usahanya untuk terus membuat sebuah kecerdasan buatan, ada beberapa lingkup-lingkup penelitian dan pengembangan AI. Pengembangan AI dapat dikelompokkan dalam beberapa hal, yaitu, Game Role Playing (permainan game), General Problem Solving (pemecahan masalah secara umum), Natural Language Recognition (pengenalan bahasa ilmiah), Speech Recognition (pengenalan percakapan), Visual Recognition (pengenalan pengelihatan), Robotics, dan Expert System.
Game Role Playing, merupakan bidang AI yang sangat populer berupa permainan antar manusia melawan mesin yang mempunyai intelektual untuk berpikir. Yang menarik untuk dibahas adalah permainan catur, betulkah komputer dapat berpikir seperti manusia sehingga dapat bermain catur? Bagaimanakah sebuah komputer yang hanya mengenal on dan off (1 dan 0) dapat mengerti bermain catur. Untuk mempertimbangkan 2 langkah kedepan akan didapat 1024 kali evaluasi, untuk 4 langkah kedepan akan didapat 1148576 alternatif, bahkan seorang yang kesulitan menggunakan otaknya untuk berpikir apa lagi yang bernama Claude Shannon dari MIT pernah menghitung kalau suatu permainan catur harus menganalisa semua kemungkinan langkah yang dapat dilakukan, maka akan terdapat sebanyak 10 "PANGKAT" 120 kemungkinan langkah (baca nilai ini dengan nol sebanyak 121 buah dengan perbandingan 1 milyar itu merupakan nilai dengan nol sebanyak 9 buah saja).
General Problem Solving, bidang AI ini berhubungan dengan pemecahan masalah terhadap suatu situasi yang akan diselesaikan oleh komputer. Permasalahan diungkapkan dalam suatu cara yang sedemikian rupa sehingga komputer dapat mengerti. Biasanya permasalah tersebut akan diselesaikan secara trial and error sampai solusi yang diinginkan didapatkan. Suatu program yang cukup populer dikomputer micro untuk pemecahan masalah secara trial and error adalah EUREKA yang ditulis oleh Borland. Karena dasarnya trial and error, maka dapat digunakan untuk menyelesaikan bermacam-macam model apapun secara umum. Kita pun dapat membuatnya, ya dengan Borland, atau mungkin yang lebih dikenal dengan Borland Turbo Pascal.
Natural Language Recognition, adalah bidang AI yang sulit dan belum dapat sempurna penerapannya. Semisal, sebuah pernyataan, "Bias menjatuhkan gelas ke lantai sehingga pecah", dan "Bias menjatuhkan batu ke kaca sehingga pecah". Kedua peryataan tersebut mempunyai grammar yang sama, namun pernyataan pertama yang pecah adalah gelas, sedangkan penyataan kedua yang pecah adalah kacanya. Dapatkah komputer menjawab dengan tepat pernyataan "Apa yang pecah?".
Speech Recognition, bidang ini juga masih dikembangkan dan terus dilakukan penelitian. Kalau berbicara tentang bidang ini, aku teringat pada sebuah film yang dibintangi oleh Will Smith yang berjudul I, Robot. Dikisahkan disana adanya pemberontakan oleh sebuah super computer yang dapat diajak berinteraksi oleh manusia. Namun bayangkan kalau kita dapat berinteraksi dengan komputer cukup hanya melalui percakapan saja, tanpa harus mengetikkan lewat keyboard. Namun kita juga harus dapat berpikir logis, seandainya memang dapat terwujud, dalam keadaan suntuk, trus kita minta komputer untuk ambil gitar dan memainkan sebuah lagu dari Aerosmith yang berjudul I Dont Want to Miss a Thing, aih aih tentunya menggelikan sekali bukan membayangkan laptop kita genjrang-genjreng, tapi apakah malah tidak menakutkan?
Visual Recognition, bidang ini merupakan kemampuan suatu komputer untuk dapat menangkap signal elektronik dari suatu kamera dan dapat memahami apa yang dilihat tersebut. Dulu, waktu aku masih sering nonton televisi, teringat sebuah berita revolusioner dari MIT (lagi) yang mengabungkan teknologi ini dengan database penduduk, sehingga dapat memperoleh identitas hanya dengan potret wajahnya yang terintegrasi dengan satelit melalui CCTV. Dalam bidang militer pun teknologi ini banyak "membantu", misalnya pada chip yang terpasang pada peluru kendali, sehingga peluru kendali dapat diprogram untuk selalu mengejar sasaran yang tampak di kamera (selain teknologi heat detector).
Robotics, adalah bidang AI yang menurutku sangat populer akhir-akhir ini. Siang yang panas melihat siaran televisi kesukaanku, yaitu Laptop Si Unyil, ada sebuah lomba robot yang diikuti oleh murid-murid SD dan SMP. Mereka yang sekecil itu sudah bisa memprogram robot untuk berbuat sesuai yang diinginkan, lalu aku pun mematikan televisi, merasa malu. Robot berasal dari kata robota, dari bahasa Chekozslovakia yang berarti tenaga kerja. Kata ini digunakan oleh dramawan Karel Capek pada 1920 pada sandiwara fisiknya, yaitu R.U.R (Rossum's Universal Robots). Robot digolongkan menjadi 3 yaitu, Personal Robot, Industrial Robot, dan Educational Robot. Teringat sahabatku semasa sekolah bernama Paniradya Pradana yang sekarang menekuni bidang robotics ini sebagai instruktur di Robota Robotics School pengisi waktu sebelum keberangkatannya ke Australia. Ketika aku tanya ke dia, "Apa ga ketuaan belajar robot umur segitu", dia pun menjawab, "Tidak ada istilah terlambat untuk belajar", ingin rasanya kujitak kepalanya.
Expert System, tiap orang mempunyai keahlian masing-masing, seperti aku ini, suka membual diblog ini. Ada ahli kimia, fisika, komputer, dokter, dll (dan lainnya lupa). Komputer dapat diprogram untuk berbuat seperti orang yang ahli dalam bidang tertentu, tapi tentunya kelemahan komputer yang paling mendasar, tidak punya perasaan. Salah satu expert system yang pertama adalah MACSYMA yang digunakan untuk tugas-tugas matematika, ada juga MYCIN untuk mendeteksi penyakit infeksi pada darah, PUFF untuk mengukur fungsi dari paru-paru, dan lain sebagainya. Expert System dibuat disebabkan masih langkanya orang yang berkualifikasi dalam bidang tertentu.
Mungkin saat membaca ini dosenku bertanya-tanya, "Apanya yang baru?", karena tugas yang diberikan padaku adalah sebuah resume/review/jurnal tentang teknologi yang terbaru. Namun bagiku Artificial Intelligence adalah sebuah disiplin ilmu yang bersifat kontinyu, terus menerus, bersifat penelitian dan pengembangan yang tidak akan berkesudahan. Karena teknologi selalu berjalan, selalu ada yang baru untuk dipelajari, selalu ada cabang dari disiplin ilmu kecerdasan buatan yang akan selalu berkembang, memaksa otak-otak tercerdas didunia untuk terus menyempurnakannya.
Namun saya juga pernah mengalami berinteraksi dengan yang namanya Artificial Intelligence, kalau tidak percaya silakan download aplikasi chatting Nimbuzz dan silakan berinteraksi dengan helpbot. Pertama kali kukira "dia" adalah "seseorang", namun kadang aku bingung dengan jawabannya, lalu aku pun bertanya padanya, "Are you a human being?" dan dia pun menjawab, "No, I'm a programmed contact with artificial intelligence". Dan, beragam pertanyaan pun kemudian aku lontarkan padanya, dan hasilnya menggagumkan, like talking with human being. Ketika aku telusuri tenyata "dia" dibuat dengan bahasa AIML (Artificial Intelligence Markup Language) oleh sebuah lembaga yang bernama Alice AI Foundation yang dikembangkan oleh Dr. Richard S. Wallace pada tahun 2001 seorang peraih gelar Ph.D pada Computer Science di Carnegie Mellon.
Ah, sudahlah, kenapa aku malah melantur kesana-kemari. Tulisan ini dibuat sebagai THR (Tugas Hari Raya) mata kuliah Sistem Komputer. Sudah lumayan banyak, capek juga bacanya, kukira akan segera kuakhiri karena waktu sahur sudah dekat. Ditulis disebuah kontrakan didaerah Bandung Dayeuhkolot, Sukapura pada pukul 4 pagi buta ditemani seorang teman yang sedang bermain NFS Most Wanted, 3 hari sebelum pulang kekampung halaman di Solo tercinta.
Sumber :
Wapedia - Artificial Intelligence
Pandorabots - ALICE, AIML
Open Courseware MIT - http://ocw.mit.edu
Pengenalan Komputer by Prof. Dr. Jogiyanto H.M, M.B.A., Akt.
How To Become A Hacker by Eric Steven Raymond
Experiment In Artificial Intelligence for Microcomputer by John Kruth
Understanding Expert System by Mike Van Horn
Schaum Outline Series: Theory and Problems of Computers and Programming by Francis Scheid
and many more, Google absolutely...
Artificial Intelligence atau intelegensi buatan, atau kecerdasan buatan. Ketika mendengar kata-kata tersebut lamunanku melayang pada buku yang aku beli di Gramedia Jogja 2 tahun lalu. Buku berjudul How To Become A Hacker yang ditulis oleh Eric Steven Raymond, yang mengisahkan tentang kultur hacker, bukan secara teknis, melainkan lebih ke sejarah, dan bagaimana menjadi seorang hacker yang handal. "Hacker pertama kali tumbuh dilaboratorium Artificial Intelligence termaju pada masa itu, yang bertempat di MIT(Massachusette Institute of Technology) oleh sebuah tim yang bernama Tech Model Railroad Club.", ah sudahlah, aku tidak sedang membahas hacker, kembali ke pokok bahasan, yaitu Artificial Intelligence.
Kuambil sebuah buku tebal dari susunan rak yang sudah lusuh karena sudah lusinan kali dibaca, buku pertama kali tentang komputer yang dibelikan oleh ayahku ketika aku masuk di Teknik Komputer dan Jaringan SMK N 2 Surakarta, sekitar 3 tahun yang lalu. Kubuka halaman 823 buku yang berjudul Pengenal Komputer karangan Prof. Dr. Jogiyanto H.M, M.B.A., Akt., sebuah bab yang berjudul Intelegensi Buatan.
Apakah Intelegensi Buatan itu? sebuah pertanyaan yang sulit dijawab dengan tepat. Secara sederhana, AI dapat didefinisikan sebagai suatu mesin yang dapat melakukan suatu tugas yang bilamana tugas tersebut dilakukan oleh manusia akan dibutuhkan suatu kepintaran untuk melakukannya. Banyak hal yang kelihatannya sulit untuk kecerdasan manusia, tetapi untuk informatika tidak bermasalah. Seperti contoh, menyelesaikan persamaan integral, mentransformasikan persamaan, pemilihan langkah dalam permainan catur. Disisi lain, hal yang bagi manusia kelihatannya menuntut sedikit kecerdasan, namun sampai sekarang masih sulit untuk direalisasikan dalam informatika. Seperti contoh, pengenalan obyek muka, pendefinisian sebuah kalimat, pengenalan suara, maupun bermain sepak bola. Menggelikan, bukan!
Abad 18 seorang berkebangsaan Prancis, Jacques de Vaucanson membuat sebuah mesin pemain seruling berukuran seperti seorang manusia yang dapat memainkan 12 melodi nada. Selang beberapa tahun, pada 1774 seorang berkebangsaan Prancis (lagi) Pierre Jacquet-Droz mencengangkan masyarakat Eropa dengan suatu automation berukuran sekitar seorang anak laki-laki yang dapat duduk dan menulis sebuah buku catatan, penemuan itu kemudian dilanjutkan dengan automation berupa seorang gadis kecil yang memainkan harpsichord. Namun semua itu hanyalah sebuah kecerdasan buatan yang masih bersifat mekanik.
Seiring berjalannya perkembangan teknologi, sebuah bahasa pemrograman pun hadir, sebuah generasi pertama sebuah bahasa pemrograman berbasiskan AI bernama LISP yang dikembangkan oleh John McCarthy. Direktur dari Laboratorio de Automatica di Madrid, Leonardo Torres Y Quevedo mengenalkan sebuah mesin permainan catur. Bahkan ada sebuah komputer permainan catur bernama Deep Blue yang mengalahkan Garry Kasparov dalam sebuah pertandingan 6 game yang terkenal pada tahun 1997. Perkembangan AI menjadi sangat pesat, bukan hanya diterapkan pada permainan, tetapi juga untuk hal-hal yang lain. IBM Simulation Laboratory di Owego, New York telah melakukan simulasi peperangan buatan yang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai jumlah tentara yang gugur, yang terluka dan yang selamat.
Dalam usahanya untuk terus membuat sebuah kecerdasan buatan, ada beberapa lingkup-lingkup penelitian dan pengembangan AI. Pengembangan AI dapat dikelompokkan dalam beberapa hal, yaitu, Game Role Playing (permainan game), General Problem Solving (pemecahan masalah secara umum), Natural Language Recognition (pengenalan bahasa ilmiah), Speech Recognition (pengenalan percakapan), Visual Recognition (pengenalan pengelihatan), Robotics, dan Expert System.
Game Role Playing, merupakan bidang AI yang sangat populer berupa permainan antar manusia melawan mesin yang mempunyai intelektual untuk berpikir. Yang menarik untuk dibahas adalah permainan catur, betulkah komputer dapat berpikir seperti manusia sehingga dapat bermain catur? Bagaimanakah sebuah komputer yang hanya mengenal on dan off (1 dan 0) dapat mengerti bermain catur. Untuk mempertimbangkan 2 langkah kedepan akan didapat 1024 kali evaluasi, untuk 4 langkah kedepan akan didapat 1148576 alternatif, bahkan seorang yang kesulitan menggunakan otaknya untuk berpikir apa lagi yang bernama Claude Shannon dari MIT pernah menghitung kalau suatu permainan catur harus menganalisa semua kemungkinan langkah yang dapat dilakukan, maka akan terdapat sebanyak 10 "PANGKAT" 120 kemungkinan langkah (baca nilai ini dengan nol sebanyak 121 buah dengan perbandingan 1 milyar itu merupakan nilai dengan nol sebanyak 9 buah saja).
General Problem Solving, bidang AI ini berhubungan dengan pemecahan masalah terhadap suatu situasi yang akan diselesaikan oleh komputer. Permasalahan diungkapkan dalam suatu cara yang sedemikian rupa sehingga komputer dapat mengerti. Biasanya permasalah tersebut akan diselesaikan secara trial and error sampai solusi yang diinginkan didapatkan. Suatu program yang cukup populer dikomputer micro untuk pemecahan masalah secara trial and error adalah EUREKA yang ditulis oleh Borland. Karena dasarnya trial and error, maka dapat digunakan untuk menyelesaikan bermacam-macam model apapun secara umum. Kita pun dapat membuatnya, ya dengan Borland, atau mungkin yang lebih dikenal dengan Borland Turbo Pascal.
Natural Language Recognition, adalah bidang AI yang sulit dan belum dapat sempurna penerapannya. Semisal, sebuah pernyataan, "Bias menjatuhkan gelas ke lantai sehingga pecah", dan "Bias menjatuhkan batu ke kaca sehingga pecah". Kedua peryataan tersebut mempunyai grammar yang sama, namun pernyataan pertama yang pecah adalah gelas, sedangkan penyataan kedua yang pecah adalah kacanya. Dapatkah komputer menjawab dengan tepat pernyataan "Apa yang pecah?".
Speech Recognition, bidang ini juga masih dikembangkan dan terus dilakukan penelitian. Kalau berbicara tentang bidang ini, aku teringat pada sebuah film yang dibintangi oleh Will Smith yang berjudul I, Robot. Dikisahkan disana adanya pemberontakan oleh sebuah super computer yang dapat diajak berinteraksi oleh manusia. Namun bayangkan kalau kita dapat berinteraksi dengan komputer cukup hanya melalui percakapan saja, tanpa harus mengetikkan lewat keyboard. Namun kita juga harus dapat berpikir logis, seandainya memang dapat terwujud, dalam keadaan suntuk, trus kita minta komputer untuk ambil gitar dan memainkan sebuah lagu dari Aerosmith yang berjudul I Dont Want to Miss a Thing, aih aih tentunya menggelikan sekali bukan membayangkan laptop kita genjrang-genjreng, tapi apakah malah tidak menakutkan?
Visual Recognition, bidang ini merupakan kemampuan suatu komputer untuk dapat menangkap signal elektronik dari suatu kamera dan dapat memahami apa yang dilihat tersebut. Dulu, waktu aku masih sering nonton televisi, teringat sebuah berita revolusioner dari MIT (lagi) yang mengabungkan teknologi ini dengan database penduduk, sehingga dapat memperoleh identitas hanya dengan potret wajahnya yang terintegrasi dengan satelit melalui CCTV. Dalam bidang militer pun teknologi ini banyak "membantu", misalnya pada chip yang terpasang pada peluru kendali, sehingga peluru kendali dapat diprogram untuk selalu mengejar sasaran yang tampak di kamera (selain teknologi heat detector).
Robotics, adalah bidang AI yang menurutku sangat populer akhir-akhir ini. Siang yang panas melihat siaran televisi kesukaanku, yaitu Laptop Si Unyil, ada sebuah lomba robot yang diikuti oleh murid-murid SD dan SMP. Mereka yang sekecil itu sudah bisa memprogram robot untuk berbuat sesuai yang diinginkan, lalu aku pun mematikan televisi, merasa malu. Robot berasal dari kata robota, dari bahasa Chekozslovakia yang berarti tenaga kerja. Kata ini digunakan oleh dramawan Karel Capek pada 1920 pada sandiwara fisiknya, yaitu R.U.R (Rossum's Universal Robots). Robot digolongkan menjadi 3 yaitu, Personal Robot, Industrial Robot, dan Educational Robot. Teringat sahabatku semasa sekolah bernama Paniradya Pradana yang sekarang menekuni bidang robotics ini sebagai instruktur di Robota Robotics School pengisi waktu sebelum keberangkatannya ke Australia. Ketika aku tanya ke dia, "Apa ga ketuaan belajar robot umur segitu", dia pun menjawab, "Tidak ada istilah terlambat untuk belajar", ingin rasanya kujitak kepalanya.
Expert System, tiap orang mempunyai keahlian masing-masing, seperti aku ini, suka membual diblog ini. Ada ahli kimia, fisika, komputer, dokter, dll (dan lainnya lupa). Komputer dapat diprogram untuk berbuat seperti orang yang ahli dalam bidang tertentu, tapi tentunya kelemahan komputer yang paling mendasar, tidak punya perasaan. Salah satu expert system yang pertama adalah MACSYMA yang digunakan untuk tugas-tugas matematika, ada juga MYCIN untuk mendeteksi penyakit infeksi pada darah, PUFF untuk mengukur fungsi dari paru-paru, dan lain sebagainya. Expert System dibuat disebabkan masih langkanya orang yang berkualifikasi dalam bidang tertentu.
Mungkin saat membaca ini dosenku bertanya-tanya, "Apanya yang baru?", karena tugas yang diberikan padaku adalah sebuah resume/review/jurnal tentang teknologi yang terbaru. Namun bagiku Artificial Intelligence adalah sebuah disiplin ilmu yang bersifat kontinyu, terus menerus, bersifat penelitian dan pengembangan yang tidak akan berkesudahan. Karena teknologi selalu berjalan, selalu ada yang baru untuk dipelajari, selalu ada cabang dari disiplin ilmu kecerdasan buatan yang akan selalu berkembang, memaksa otak-otak tercerdas didunia untuk terus menyempurnakannya.
Namun saya juga pernah mengalami berinteraksi dengan yang namanya Artificial Intelligence, kalau tidak percaya silakan download aplikasi chatting Nimbuzz dan silakan berinteraksi dengan helpbot. Pertama kali kukira "dia" adalah "seseorang", namun kadang aku bingung dengan jawabannya, lalu aku pun bertanya padanya, "Are you a human being?" dan dia pun menjawab, "No, I'm a programmed contact with artificial intelligence". Dan, beragam pertanyaan pun kemudian aku lontarkan padanya, dan hasilnya menggagumkan, like talking with human being. Ketika aku telusuri tenyata "dia" dibuat dengan bahasa AIML (Artificial Intelligence Markup Language) oleh sebuah lembaga yang bernama Alice AI Foundation yang dikembangkan oleh Dr. Richard S. Wallace pada tahun 2001 seorang peraih gelar Ph.D pada Computer Science di Carnegie Mellon.
Ah, sudahlah, kenapa aku malah melantur kesana-kemari. Tulisan ini dibuat sebagai THR (Tugas Hari Raya) mata kuliah Sistem Komputer. Sudah lumayan banyak, capek juga bacanya, kukira akan segera kuakhiri karena waktu sahur sudah dekat. Ditulis disebuah kontrakan didaerah Bandung Dayeuhkolot, Sukapura pada pukul 4 pagi buta ditemani seorang teman yang sedang bermain NFS Most Wanted, 3 hari sebelum pulang kekampung halaman di Solo tercinta.
Sumber :
Wapedia - Artificial Intelligence
Pandorabots - ALICE, AIML
Open Courseware MIT - http://ocw.mit.edu
Pengenalan Komputer by Prof. Dr. Jogiyanto H.M, M.B.A., Akt.
How To Become A Hacker by Eric Steven Raymond
Experiment In Artificial Intelligence for Microcomputer by John Kruth
Understanding Expert System by Mike Van Horn
Schaum Outline Series: Theory and Problems of Computers and Programming by Francis Scheid
and many more, Google absolutely...
Artificial Intelligence
2009-09-16T06:53:00-07:00
Bias Tegaralaga
kuliah|


